Bekerja keras adalah hal yang positif, namun bekerja terlalu berlebihan (overworking) justru dapat mengancam kesehatan tubuh secara serius.
Kondisi ini bukan sekadar kelelahan biasa, dampaknya dapat memicu berbagai penyakit kronis berbahaya seperti stroke dan penyakit jantung istemik hingga meningkatkan risiko kematian dini jika tidak segera diatasi.
Bahaya Sibuk Kerja Berlebihan bagi Kesehatan
Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bersama Organisasi Buruh Internasional (ILO) bahwa pada 2016, jam kerja 55 jam atau lebih per minggu berkontribusi pada sekitar 745.000 kematian akibat stroke dan penyakit jantung iskemik di seluruh dunia.
Temuan ini menegaskan bahwa sibuk kerja berlebihan bukan sekadar masalah produktivitas, melainkan ancaman nyata bagi kelangsungan hidup.
Berikut ini 9 bahaya sibuk kerja berlebihan yang perlu Sahabat Tirta waspadai:
1. Penyakit Jantung Koroner
Bekerja lebih dari 55 jam per minggu secara signifikan meningkatkan risiko penyakit jantung koroner.
Lembur berkepanjangan dapat meningkatkan stres kerja dan gangguan respons stres termasuk perubahan regulasi kortisol (hormon stres). Hal ini diduga menjadi salah satu mekanisme yang dapat berkontribusi pada risiko kardiovaskular.
2. Stroke
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal The Lancet menemukan bahwa seseorang yang bekerja 55 jam atau lebih per minggu memiliki risiko stroke 33% lebih tinggi dibandingkan mereka yang bekerja standar 35-40 jam.
3. Gangguan Tidur (Insomnia)
Beban kerja tinggi, stres kerja, dan jam kerja panjang dapat berkontribusi pada kurang tidur dan kualitas istirahat yang buruk.
Kekurangan tidur kronis memperlemah kemampuan kognitif, menurunkan produktivitas, dan meningkatkan risiko berbagai penyakit metabolik.
4. Depresi dan Burnout
Burnout akibat stres kerja kronis dapat berkaitan dengan meningkatnya gejala depresi dan gangguan fungsi sehari-hari, tetapi burnout tidak sama dengan gangguan depresi mayor dan tidak selalu berkembang menjadi depresi mayor.
5. Diabetes Melitus Tipe 2
Stres kerja kronis dapat memengaruhi regulasi hormon stres dan metabolisme glukosa, yang pada sebagian orang dapat berkontribusi pada resistensi insulin.
Beberapa studi menunjukkan bahwa stres kerja kronis dan jam kerja panjang dapat berkaitan dengan peningkatan risiko diabetes melitus tipe 2, terutama bila disertai faktor risiko lain seperti pola makan kurang sehat, kurang aktivitas fisik, dan obesitas.
6. Melemahnya Sistem Imun Tubuh
Stres kronis dan kelelahan berkepanjangan akibat overworking dapat mengganggu fungsi sistem imun, sehingga pada sebagian orang dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi.
7. Nyeri Otot dan Muskuloskeletal
Tuntutan pekerjaan dengan jam panjang sering kali membuat seseorang duduk berjam-jam dalam posisi yang kurang ergonomis. Kondisi ini memicu ketegangan dan nyeri otot di area leher, bahu, punggung, serta pinggang.
8. Gangguan Fungsi Kognitif dan Memori
Bekerja secara berlebihan dalam jangka panjang terbukti menurunkan kemampuan konsentrasi, memori jangka pendek, dan kapasitas pengambilan keputusan. Kondisi ini berhubungan erat dengan dampak stres kronis terhadap struktur otak.
9. Gangguan Pencernaan
Stres dan kelelahan akibat overworking dapat memengaruhi fungsi saluran cerna, termasuk motilitas usus dan persepsi gejala, sehingga dapat memperburuk keluhan seperti sindrom iritasi usus besar (IBS) dan pada sebagian orang memperberat gejala dispepsia, gastritis, atau refluks gastroesofageal (GERD).
Gejala pada Tubuh Jika Terlalu Sibuk Kerja

Sebelum berkembang menjadi penyakit serius, tubuh akan mengirimkan sinyal-sinyal peringatan awal yang sering diabaikan. Kenali gejalanya sejak dini:
- Kelelahan ekstrem yang tidak membaik meski sudah beristirahat
- Sakit kepala atau migrain yang sering berulang
- Gangguan tidur seperti sulit tidur atau tidur terlalu banyak
- Perubahan pola makan seperti nafsu makan menurun drastis atau makan berlebihan
- Mudah marah dan perubahan suasana hati yang tidak stabil
- Sulit berkonsentrasi dan mudah lupa
- Nyeri otot dan sendi yang menetap
- Stres kronis dapat memengaruhi hormon reproduksi, sehingga pada sebagian orang dapat menyebabkan penurunan libido dan perubahan siklus menstruasi.
- Isolasi sosial dengan menarik diri dari lingkungan keluarga dan teman.
Jika gejala-gejala tersebut berlangsung lama, semakin berat, atau mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya konsultasikan dengan tenaga kesehatan untuk evaluasi lebih lanjut.
Cara Mengatasi Ketika Sibuk Kerja

Mencegah dan mengatasi dampak negatif overworking membutuhkan perubahan gaya hidup yang konsisten. Berikut langkah-langkah yang direkomendasikan:
1. Tetapkan batas waktu kerja yang jelas
Batas jam kerja yang wajar umumnya sekitar 40 jam per minggu, dan bekerja lebih dari 55 jam per minggu dikaitkan dengan peningkatan risiko kesehatan.
2. Susun prioritas pekerjaan
Teknik manajemen waktu dan prioritas kerja dapat membantu mengurangi stres dan beban kerja, meskipun tidak ada satu metode yang terbukti paling efektif secara medis.
3. Jadwalkan istirahat aktif
Melakukan istirahat singkat secara berkala selama bekerja dapat membantu mengurangi kelelahan dan meningkatkan konsentrasi. Berdiri, berjalan kaki ringan, atau lakukan peregangan sederhana.
4. Delegasikan tugas
Mengurangi beban kerja melalui pembagian tugas dapat membantu menurunkan stres kerja dan mencegah kelelahan berlebihan.
5. Tidur 7–8 jam per malam
Tidur berkualitas adalah fondasi utama pemulihan fisik dan mental. Mengurangi penggunaan perangkat elektronik sebelum tidur dapat membantu meningkatkan kualitas tidur.
6. Latih mindfulness dan teknik relaksasi
Meditasi, pernapasan dalam, atau yoga terbukti efektif menurunkan kadar kortisol dan meredakan stres akibat kerja.
7. Jaga pola makan bergizi seimbang
Hindari melewatkan waktu makan. Konsumsi makanan kaya serat, protein, dan antioksidan untuk mendukung energi dan imunitas tubuh.
8. Lakukan aktivitas fisik rutin
Olahraga minimal 150 menit per minggu dengan intensitas sedang sangat dianjurkan oleh WHO untuk menjaga kesehatan kardiovaskular.
Efek Samping Kerja Berlebihan

Selain dampak kesehatan jangka panjang, kerja berlebihan juga menimbulkan efek samping yang dirasakan dalam kehidupan sehari-hari:
1. Penurunan produktivitas
Studi yang dilakukan Stanford University bahwa produktivitas cenderung menurun ketika jam kerja menjadi sangat panjang, terutama di atas 50 jam per minggu.
2. Kerusakan hubungan interpersonal
Kurangnya waktu bersama keluarga dan teman memperlemah ikatan sosial yang penting bagi kesejahteraan mental.
3. Peningkatan risiko kecelakaan kerja
Kelelahan menurunkan kewaspadaan, koordinasi motorik, dan waktu reaksi, sehingga meningkatkan potensi kecelakaan.
4. Gangguan hormonal
Pada wanita, stres kronis akibat overworking dapat mengganggu siklus menstruasi dan keseimbangan hormon reproduksi.
5. Percepatan penuaan biologis
Stres kronis dapat meningkatkan stres oksidatif dan berkaitan dengan perubahan biologis seperti pemendekan telomer, yang dapat berkontribusi pada proses penuaan.
Kapan Harus ke Dokter?
Segera konsultasikan kondisi Anda ke dokter apabila Anda mengalami satu atau lebih tanda berikut ini:
- Nyeri dada, sesak napas, atau jantung berdebar yang baru muncul, berat, atau disertai rasa mau pingsan, keringat dingin, atau memburuk perlu segera dinilai tenaga kesehatan; pada kondisi berat, cari pertolongan darurat
- Sakit kepala berat yang tidak membaik dengan obat biasa
- Jika gangguan tidur berlangsung terus, sering berulang, atau mulai mengganggu aktivitas harian, sebaiknya periksakan ke dokter. Insomnia kronis umumnya didefinisikan terjadi setidaknya 3 malam per minggu selama 3 bulan atau lebih.
- Gejala depresi atau kecemasan yang mengganggu aktivitas harian
- Tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol
- Kelelahan ekstrem meski sudah beristirahat cukup
- Jika gejala burnout seperti kelelahan berat, sinisme terhadap pekerjaan, atau menurunnya efektivitas kerja menetap dan mulai mengganggu fungsi sehari-hari, sebaiknya konsultasi dengan tenaga kesehatan atau profesional kesehatan mental.
Jangan tunda pemeriksaan kesehatan hanya karena kesibukan kerja. Justru, deteksi dini adalah kunci mencegah penyakit menjadi lebih serius.
Periksa Kesehatan Anda di Klinik Tirta Medical Centre (TMC)
Bagi Anda yang sibuk dan sulit meluangkan waktu ke klinik, Tirta Medical Centre (TMC) hadir sebagai solusi terpercaya.
TMC merupakan klinik Medical Check Up dengan laboratorium terpercaya dan berstandar tinggi di Indonesia, kini telah hadir di 30+ lokasi cabang se-Indonesia.
Tidak punya waktu datang ke klinik? Manfaatkan layanan Homecare TiCare dari TMC yang memungkinkan pemeriksaan kesehatan langsung di rumah atau kantor dengan profesional dan akurat. Jangan tunggu sakit untuk peduli pada kesehatan Anda atau keluarga.
Referensi:
- https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8315652/
- https://health.clevelandclinic.org/effects-of-working-too-much
- https://www.thelancet.com/article/S0140-6736(15)60295-1/fulltext
- https://www.health.harvard.edu/blog/only-the-overworked-die-young-201512148815
- https://www.who.int/news/item/17-05-2021-long-working-hours-increasing-deaths-from-heart-disease-and-stroke-who-ilo
- https://www.passporthealthusa.com/employer-solutions/blog/2019-2-overworking-affect-physical-and-mental-health/
- https://www.vascularassociateswny.com/blog/chronic-working-can-affect-your-health
- https://www.chateaurecovery.com/how-overworking-can-cause-harm
- https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/stress-management/in-depth/burnout/art-20046642
- https://www.webmd.com/mental-health/burnout-symptoms-signs
- https://www.nhs.uk/mental-health/feelings-symptoms-behaviours/feelings-and-symptoms/stress/
- https://www.nhlbi.nih.gov/health-topics/sleep-deprivation-and-deficiency

