Bagikan ke:

Hantavirus adalah kelompok virus yang ditularkan terutama melalui tikus dan hewan pengerat lain, dapat menyebabkan gangguan berat paru atau ginjal, dan berpotensi mengancam nyawa. 

Di Indonesia, sebagian besar laporan kasus hantavirus pada manusia merupakan tipe Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) tanpa adanya bukti penularan antarmanusia.

Meski pasien pada gelombang awal dilaporkan sembuh, kasus positif tercatat terus bertambah hingga mencapai 23 kasus mengalami positif pada minggu ke-16 tahun 2026 sehingga kewaspadaan tetap sangat diperlukan.

Apa itu Hantavirus?

Hantavirus adalah virus dalam genus Orthohantavirus yang hidup secara alami pada rodensia (tikus, mencit, dan hewan pengerat lain) dan ditularkan ke manusia melalui kontak dengan ekskresi hewan tersebut. 

Infeksi pada manusia dapat menimbulkan dua sindrom utama: Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru dan jantung, serta Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang terutama menyerang ginjal dan pembuluh darah.

Secara global, hantavirus termasuk penyakit yang relatif jarang, tetapi bila sudah menimbulkan HPS atau HFRS berat, angka kematian dapat mencapai <1–15% di Asia/Eropa dan hingga sekitar 50% di Amerika, bergantung jenis virus dan fasilitas perawatan. 

Gejala Hantavirus

Masa inkubasi hantavirus umumnya 1–8 minggu setelah paparan, dengan gejala awal mirip flu. Keluhan yang sering muncul pada fase awal antara lain demam, menggigil, nyeri otot, sakit kepala, lemas, mual, muntah, nyeri perut, dan diare.

Gejala HFRS berpusat pada disfungsi ginjal dan pendarahan yang ditandai oleh beberapa hal berikut:

  • Demam
  • Nyeri pada punggung dan perut
  • Ruam
  • Mata kemerahan
  • Penurunan jumlah urin
  • Gangguan ginjal akut

Sedangkan gejala HPS terkait kardiopulmonal yang ditandai oleh beberapa hal ini:

  • Demam
  • Nyeri otot
  • Batuk
  • Sesak napas karena paru terisi cairan 

Segera ke IGD bila Anda mengalami demam disertai sesak napas yang cepat memberat, atau demam dengan nyeri punggung atau perut dan jumlah urin menurun, terutama bila sebelumnya terpapar lingkungan banyak tikus.

Penyebab Hantavirus

Sumber utama hantavirus adalah rodensia yang terinfeksi, hewan ini mengeluarkan virus melalui urin, tinja, dan air liur. 

Penularan ke manusia terutama terjadi saat seseorang menghirup aerosol yang terbentuk ketika debu atau permukaan yang terkontaminasi kotoran/urin tikus terganggu, misalnya saat menyapu gudang, membuka rumah lama, atau bekerja di lahan pertanian dan bangunan tua.

Penularan melalui gigitan tikus atau kontak cairan tubuh ke kulit yang luka mungkin terjadi, tetapi dilaporkan jauh lebih jarang. 

Secara umum, hantavirus tidak menular dari manusia ke manusia, dengan pengecualian terbatas pada virus Andes di Amerika Selatan; hingga kini Kemenkes menegaskan belum ada bukti penularan antarmanusia di Indonesia.

Cara Mencegah Hantavirus

Karena belum ada vaksin dan obat antivirus spesifik, pencegahan utama adalah mengurangi paparan terhadap rodensia dan ekskresinya.

Langkah pencegahan yang dianjurkan antara lain:

  • Mengendalikan populasi tikus di rumah atau di lingkungan, menutup celah bangunan, mengelola sampah dengan baik, dan menyimpan makanan dalam wadah tertutup.
  • Menghindari menyentuh tikus, baik hidup maupun mati, tanpa alat pelindung diri, serta membuang bangkai tikus secara aman.
  • Menjaga kebersihan ruang yang jarang dipakai (loteng, gudang, ruang bawah tanah) untuk mencegah tikus bersarang.

Saat membersihkan area yang mungkin terkontaminasi, jangan menyapu atau menggunakan vacuum kering karena dapat mengaerosolisasi virus. 

Sebaiknya ventilasi ruangan terlebih dahulu, gunakan sarung tangan dan bila perlu masker, semprot kotoran atau urin tikus dengan disinfektan, diamkan beberapa menit, lalu lap dengan tisu atau kain sekali pakai dan buang dalam kantong tertutup.

Bagi pekerja berisiko (petani, buruh bangunan, petugas gudang, petugas pengendalian hama, tenaga kesehatan laboratorium), gunakan alat pelindung diri (sarung tangan, sepatu tertutup, masker) saat berkontak dengan area yang mungkin tercemar kotoran tikus. 

Selain itu, terapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta segera memeriksakan diri bila timbul gejala mencurigakan setelah paparan rodensia.

Tempat Pemeriksaan Kesehatan (Bisa Homecare)

Diagnosis hantavirus memerlukan evaluasi dokter dan pemeriksaan penunjang, seperti foto rontgen dada, pemeriksaan darah (fungsi ginjal, hati, trombosit), serta tes serologi atau PCR khusus di laboratorium rujukan. 

Pemeriksaan ini penting untuk membedakan hantavirus dari penyakit lain yang gejalanya mirip, misalnya leptospirosis, sepsis, atau dengue.

Untuk pemeriksaan kesehatan menyeluruh dengan dukungan laboratorium yang lengkap dan tepercaya, Anda dapat mempertimbangkan Klinik Tirta Medical Centre (TMC). 

TMC merupakan Klinik Medical Check Up dengan laboratorium terpercaya dan termasuk yang terbaik di Indonesia, sehingga mampu melakukan pemeriksaan panel darah dan urin komprehensif untuk menilai fungsi organ vital serta menentukan kebutuhan rujukan ke rumah sakit bila dicurigai infeksi berat.

Bagi Anda yang ingin mengurangi perjalanan ke fasilitas kesehatan atau membutuhkan kemudahan layanan, TMC menyediakan layanan homecare TiCare. Melalui layanan ini, tenaga kesehatan dapat datang ke rumah atau kantor untuk memeriksa tanda vital, mengambil sampel darah atau urin, dan memberikan edukasi mengenai gejala bahaya yang perlu diwaspadai. 

TMC juga telah memiliki lebih dari 30 cabang di berbagai kota di Indonesia, sehingga memudahkan akses medical check up dan konsultasi dokter sesuai domisili Anda.

Bila setelah pemeriksaan ditemukan kecurigaan hantavirus atau infeksi serius lain, dokter di TMC dapat segera mengoordinasikan rujukan ke rumah sakit dengan fasilitas perawatan intensif, sehingga penanganan lanjutan dapat dilakukan secepat mungkin.

Referensi:


Bagikan ke: