Vaksin HPV adalah vaksin yang dirancang untuk melindungi tubuh dari infeksi Human Papillomavirus (HPV), salah satu penyebab utama kanker serviks dan beberapa jenis kanker lain pada area genital dan tenggorokan.
Jenis kanker yang dapat dikaitkan dengan HPV antara lain kanker serviks, vulva, vagina, penis, anus, serta sebagian kanker orofaring (bagian belakang tenggorokan, dasar lidah, dan amandel). Infeksi HPV juga dapat menyebabkan kutil kelamin (genital warts) yang mengganggu kualitas hidup penderitanya.
Organisasi kesehatan seperti WHO, CDC, dan berbagai asosiasi profesi menekankan bahwa vaksinasi HPV merupakan salah satu langkah paling efektif untuk menurunkan angka kejadian kanker serviks.
Apa itu Vaksin HPV?
Vaksin HPV mengandung partikel mirip virus (virus-like particles/VLP) yang tidak mengandung DNA virus sehingga tidak dapat menyebabkan infeksi HPV.
Partikel ini berfungsi merangsang sistem imun untuk membentuk antibodi spesifik terhadap tipe HPV berisiko tinggi penyebab kanker.
Saat seseorang yang sudah menerima vaksin hpv terpajan virus asli, antibodi yang sudah terbentuk akan mengenali dan menetralisir virus sebelum menimbulkan infeksi yang persisten.
Penelitian di berbagai negara menunjukkan penurunan signifikan lesi prakanker serviks dan kutil kelamin setelah program vaksinasi HPV dijalankan secara luas.
Tujuan Vaksin HPV
Tujuan utama vaksin HPV adalah mencegah infeksi HPV berisiko tinggi yang dapat berkembang menjadi kanker serviks dan kanker terkait HPV lainnya.
Tipe HPV 16 dan 18 diperkirakan bertanggung jawab atas sekitar 70 persen kasus kanker serviks di dunia, sehingga sebagian besar vaksin hpv diformulasikan untuk memberikan perlindungan terhadap tipe-tipe ini.

Beberapa vaksin, seperti vaksin bivalen, kuadrivalen, dan nonavalent, juga melindungi terhadap tipe HPV lain yang menyebabkan kutil kelamin maupun kanker di lokasi lain.
Dengan cakupan vaksinasi yang tinggi pada kelompok usia sasaran, angka kanker serviks dan penyakit akibat HPV diharapkan menurun secara bermakna dalam beberapa dekade ke depan.
Cara Kerja Vaksin HPV
Vaksin HPV bekerja dengan cara mensimulasikan paparan terhadap bagian luar virus (protein kapsid L1) tanpa memasukkan materi genetik virus ke dalam tubuh.
Protein ini disusun menjadi partikel mirip virus yang sangat imunogenik, sehingga tubuh membentuk antibodi dalam kadar tinggi.
Saat HPV masuk melalui kontak kulit atau mukosa, antibodi yang sudah terbentuk akan menempel pada virus dan mencegahnya menginfeksi sel. Karena itulah, vaksin hpv sebaiknya diberikan sebelum seseorang mulai aktif secara seksual, ketika kemungkinan belum terpapar HPV.
Saat ini tersedia beberapa jenis vaksin:
- Vaksin bivalen: melindungi terutama terhadap HPV tipe 16 dan 18.
- Vaksin kuadrivalen: melindungi terhadap tipe 6, 11, 16, dan 18.
- Vaksin nonavalent melindungi terhadap sembilan tipe HPV, termasuk tujuh tipe berisiko tinggi penyebab kanker serta dua tipe (6 dan 11) yang menyebabkan sebagian besar kutil kelamin.
Syarat Vaksin HPV

Di Indonesia, syarat dan jadwal vaksin hpv mengacu pada rekomendasi IDAI untuk anak dan Satgas Imunisasi Dewasa PAPDI untuk orang dewasa.
Tujuannya adalah memberikan perlindungan optimal sebelum dan selama masa aktif seksual, dengan skema dosis yang berbeda sesuai usia dan jenis kelamin.
1. Anak dan remaja (rekomendasi IDAI)
- Usia 9–14 tahun (anak perempuan): diberikan 2 dosis dengan interval 6–12 bulan antara dosis pertama dan kedua.
- Usia 15–18 tahun: diberikan 3 dosis dengan jadwal vaksin hpv bivalen (0, 1, dan 6 bulan) dan vaksin hpv quadrivalent atau nonavalen (0, 2, 6 bulan).
- Dalam program imunisasi nasional (BIAS), vaksin HPV diberikan gratis untuk anak perempuan kelas 5 dan 6 SD melalui dua kali pemberian di sekolah.
2. Dewasa (rekomendasi PAPDI 2025)
- Perempuan dewasa usia 19–45 tahun: direkomendasikan vaksin HPV bivalen, kuadrivalen, atau nonavalent sebanyak 3 dosis dengan jadwal bulan ke-0, 1 atau 2, dan 6.
- Laki-laki dewasa usia 16 – 26 tahun: direkomendasikan vaksin HPV kuadrivalen atau nonavalent sebanyak 3 dosis dengan jadwal bulan ke-0, 2, dan 6.
3. Kondisi medis dan kontraindikasi umum
- Tidak sedang mengalami demam tinggi atau penyakit akut berat; bila sedang sakit ringan (misalnya batuk-pilek ringan), vaksinasi biasanya tetap dapat dilakukan setelah dinilai dokter.
- Tidak memiliki riwayat alergi berat (anafilaksis) terhadap komponen vaksin, misalnya protein ragi pada beberapa jenis vaksin hpv.
- Tidak diberikan pada wanita hamil atau bagi yang merencanakan kehamilan, sebaiknya menyelesaikan seri vaksin terlebih dahulu atau mendiskusikan waktu pemberian dengan dokter.
- Pada individu dengan kondisi imunokompromais (misalnya HIV, terapi imunosupresif), vaksin HPV tetap dianjurkan dan umumnya menggunakan jadwal 3 dosis, penyesuaian dilakukan berdasarkan penilaian dokter.
Dengan demikian, sebelum menerima vaksin hpv, penting untuk berkonsultasi dengan dokter agar usia, jumlah dosis, dan jadwal pemberian sesuai dengan rekomendasi IDAI dan PAPDI terbaru, serta disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing‑masing.
Harga Vaksin HPV di Tirta Medical Centre (TMC)
Di Tirta Medical Centre, vaksin hpv tersedia dalam beberapa pilihan jenis dan paket dosis. Kisaran harga vaksin hpv terkini antara lain:
- Harga Vaksin HPV Cervarix (2 Strain/Bivalen): Rp950.000
- Harga Vaksin HPV Gardasil 9 (4 Strai/Kuadrivalen, 1 Dosis): Rp1.300.000
- Harga Vaksin HPV Gardasil 9 (4 Strain/Kuadrivalen, 3 Dosis): Rp3.900.000
- Harga Vaksin HPV Gardasil 9 (9 Strain/Nonavalen, 1 Dosis): Rp2.300.000
- Harga Vaksin HPV Gardasil 9 (9 Strain/Nonavalen, 1 Dosis): Rp6.800.000
Note: Harga dapat berubah sewaktu-waktu, Sahabat Tirta dapat menghubungi kami untuk update harga vaksin HPV atau reservasi promo TMC secara online di sini:
Prosedur Vaksin HPV

Berikut adalah prosedur vaksinasi HPV yang perlu Anda ketahui:
- Sebelum vaksinasi, pasien akan berkonsultasi dengan dokter untuk menilai riwayat kesehatan, riwayat alergi, status imunisasi sebelumnya, serta kemungkinan kehamilan pada perempuan usia subur.
- Dokter kemudian menentukan jenis vaksin, jumlah dosis, dan jadwal vaksin hpv yang paling sesuai dengan usia dan kondisi medis pasien.
- Vaksin diberikan melalui suntikan intramuskular di otot lengan bagian atas (deltoid).
- Setelah penyuntikan, pasien dianjurkan menunggu sekitar 15 menit di fasilitas kesehatan untuk memantau kemungkinan pusing, rasa ingin pingsan, atau reaksi alergi.
Pasien akan diberi jadwal kunjungan berikutnya agar dosis vaksin tidak terputus, karena efektivitas optimal tercapai bila seluruh dosis yang direkomendasikan sudah lengkap.
Efek Samping Vaksin HPV
Secara umum, vaksin HPV memiliki profil keamanan yang sangat baik berdasarkan pemantauan jangka panjang oleh WHO, CDC, dan badan pengawas obat di berbagai negara.
Efek samping yang paling sering bersifat ringan dan sementara, seperti:
- Nyeri, kemerahan, bengkak, atau rasa hangat di lokasi suntikan.
- Sakit kepala, rasa lelah, atau sedikit mual.
- Demam ringan dan nyeri otot atau sendi.
Pada sebagian kecil orang, vaksinasi dapat memicu rasa pusing atau hampir pingsan sehingga dianjurkan duduk atau berbaring sesaat setelah vaksin.
Bila timbul keluhan yang menetap atau berat setelah vaksinasi, segera konsultasikan ke dokter untuk evaluasi lebih lanjut.
FAQ seputar Vaksin HPV
Bagi sebagian besar orang, cukup menyelesaikan rekomendasi jadwal vaksin hpv (2 dosis bila mulai sebelum 15 tahun, atau 3 dosis bila mulai pada usia 15–45 tahun).
2. Apakah laki-laki juga perlu vaksin HPV?
Di Indonesia, program imunisasi pemerintah saat ini memprioritaskan anak perempuan, tetapi laki-laki tetap boleh mendapatkan vaksin HPV secara mandiri untuk menurunkan risiko kanker dan kutil kelamin terkait HPV pada usia 9-45 tahun dengan pertimbangan dokter.
Sedangkan menurut The Advisory Committee on Immunization Practices and ACOG, merekomendasikan vaksin HPV untuk anak laki-laki usia 11–12 tahun dan dapat dimulai sejak usia 9 tahun.
3. Apakah vaksin HPV masih bermanfaat jika sudah menikah atau pernah berhubungan seksual?
Ya, vaksin hpv masih dapat memberikan manfaat pada orang yang sudah aktif secara seksual, terutama yang belum pernah mendapatkan vaksin.
Vaksin tidak mengobati infeksi HPV yang sudah ada, tetapi dapat membantu melindungi dari tipe HPV lain yang belum menginfeksi, skrining kanker serviks dengan Pap smear atau IVA tetap perlu dilakukan secara berkala.
Referensi:
- https://ayosehat.kemkes.go.id/vaksin-hpv-mencegah-kanker-leher-rahim-dan-mewujudkan-generasi-sehat
- https://satgasimunisasipapdi.com/jadwal-imunisasi-dewasa/
- https://www.idai.or.id/professional-resources/rekomendasi/jadwal-imunisasi-anak-usia-0-18-tahun
- https://www.cancer.gov/types/cervical/research/gardasil9-prevents-more-hpv-types
- https://www.who.int/news/item/20-12-2022-WHO-updates-recommendations-on-HPV-vaccination-schedule
- https://www.cdc.gov/hpv/vaccines/index.html
- https://www.cdc.gov/vaccine-safety/vaccines/hpv.html
- https://www.mayoclinichealthsystem.org/hometown-health/speaking-of-health/hpv-immunization-who-can-benefit
- https://www.alomedika.com/obat/vaksin-serum-dan-imunoglobulin/vaksin/vaksin-hpv/indikasi-dan-dosis

