Bagikan ke:

Kanker serviks merupakan ancaman kesehatan yang serius bagi perempuan Indonesia. Data Globocan 2022 menunjukkan bahwa sebanyak  36.964 kasus baru kanker serviks terdeteksi di Indonesia, dengan 20.708 kasus di antaranya berakhir dengan kematian.

Ironisnya, sekitar 70 persen kasus baru terdiagnosis pada stadium lanjut sehingga meningkatkan risiko kematian secara signifikan. Sahabat Tirta akan memahami secara komprehensif tentang kanker serviks, mulai dari definisi, penyebab, gejala, hingga langkah pencegahan yang efektif.​

Apa itu Kanker Serviks?

Kanker serviks adalah keganasan yang tumbuh pada sel-sel di leher rahim (serviks), yaitu bagian bawah rahim yang menghubungkan rahim dengan vagina. Serviks memiliki dua bagian utama: ektoserviks yang dilapisi sel skuamosa tipis dan pipih, serta endoserviks yang dilapisi sel kelenjar berbentuk kolom. 

Mayoritas kanker serviks bermula di zona transformasi, yaitu area pertemuan antara ektoserviks dan endoserviks.​

Terdapat dua tipe utama kanker serviks berdasarkan jenis sel yang terlibat. Karsinoma sel skuamosa merupakan tipe paling umum yang mencakup 80-90 persen kasus, berasal dari sel skuamosa di ektoserviks. 

Adenokarsinoma berkembang dari sel kelenjar di endoserviks dan mencakup 10-20 persen kasus. Pada beberapa kasus, kedua tipe sel dapat terlibat bersamaan yang disebut karsinoma campuran atau adenoskuamosa.​

Perkembangan kanker serviks umumnya berlangsung lambat selama bertahun-tahun. Sebelum sel normal berubah menjadi sel kanker, sel-sel tersebut mengalami perubahan abnormal yang dikenal sebagai displasia atau lesi prakanker. 

Biasanya dibutuhkan waktu sekitar 15–20 tahun bagi sel abnormal untuk menjadi kanker. Pada perempuan dengan sistem imun yang lemah, seperti pengidap HIV, proses ini dapat berlangsung lebih cepat dalam 5-10 tahun.​

FIGO 2023 mencatat bahwa adenokarsinoma kini makin sering ditemukan pada perempuan muda dan sering lebih sulit dideteksi lewat Pap smear sebab itu tes HPV DNA semakin direkomendasikan.

Penyebab Kanker Serviks

Ilustrasi Penyebab Kanker Serviks

Penyebab utama kanker serviks adalah infeksi persisten Human Papillomavirus (HPV), yang bertanggung jawab atas lebih dari 95 persen kasus kanker serviks. 

HPV merupakan infeksi menular seksual yang sangat umum dan menyebar melalui kontak kulit ke kulit saat berhubungan seksual vaginal, anal, atau oral. 

Sebagian besar infeksi HPV tidak menimbulkan gejala dan akan hilang dengan sendirinya dalam 1-2 tahun berkat sistem kekebalan tubuh. Namun, belum ada obat untuk menghilangkan virusnya, hanya gejalanya saja yang dapat ditangani. ​

Terdapat lebih dari 100 jenis HPV yang dikenal. Sekitar 60 jenis di antaranya dapat menyebabkan kutil kulit (seperti di kaki dan tangan), sementara sekitar 40 jenis lainnya memicu kutil kelamin. 

HPV tipe 16 dan 18 merupakan penyebab lebih dari 75 persen kasus kanker serviks. Ketika sistem imun tidak mampu mengeliminasi infeksi HPV, virus dapat bertahan selama bertahun-tahun dan menyebabkan perubahan sel serviks menjadi sel prakanker hingga akhirnya berkembang menjadi kanker.​

Beberapa faktor risiko dapat meningkatkan kemungkinan berkembangnya kanker serviks pada perempuan yang terinfeksi HPV. 

Merokok meningkatkan risiko karena infeksi HPV cenderung bertahan lebih lama dan sulit hilang pada perokok. Aktivitas seksual dini dan memiliki banyak pasangan seksual juga meningkatkan risiko paparan HPV. 

Sistem imun yang lemah akibat penyakit seperti HIV membuat perempuan 6 kali lebih berisiko mengembangkan kanker serviks. Faktor lain meliputi riwayat infeksi menular seksual lainnya, penggunaan kontrasepsi oral jangka panjang, dan riwayat melahirkan banyak anak.​

Gejala Kanker Serviks

Seorang Wanita Mengalami Gejala Kanker Serviks

Gejala kanker serviks seringkali sulit dikenali karena pada stadium awal biasanya tidak menimbulkan keluhan yang spesifik. Oleh karena itu, penting bagi setiap perempuan untuk memahami tanda-tanda yang perlu diwaspadai agar dapat melakukan pemeriksaan lebih dini. 

Berikut adalah gejala kanker serviks yang perlu Sahabat Tirta ketahui:

1. Sering tidak bergejala pada stadium awal

Pada tahap prakanker dan stadium awal, kanker serviks umumnya tidak menimbulkan keluhan yang jelas sehingga sering kali hanya ditemukan melalui pemeriksaan skrining rutin, bukan karena adanya gejala tertentu.

2. Perdarahan vagina di luar pola menstruasi normal

Salah satu gejala tersering adalah perdarahan yang tidak wajar, misalnya perdarahan setelah berhubungan seksual, perdarahan di antara siklus haid, haid yang lebih banyak dan lebih lama dari biasanya, atau perdarahan setelah menopause.

3. Keputihan abnormal dan berbau tidak sedap

Keputihan yang berbeda dari biasanya, misalnya lebih encer atau kental, berwarna kekuningan, kecokelatan, atau bercampur darah, serta disertai bau tidak sedap, dapat menjadi tanda adanya kelainan pada leher rahim termasuk lesi prakanker atau kanker.

4. Nyeri saat berhubungan seksual (dispareunia)

Nyeri atau rasa tidak nyaman yang menetap saat atau setelah penetrasi vaginal dapat mengindikasikan adanya peradangan, lesi, atau massa pada serviks dan harus dievaluasi, terutama bila disertai perdarahan kontak.

5. Nyeri panggul atau nyeri punggung bawah yang menetap

Kanker serviks yang mulai berkembang dapat menimbulkan nyeri tumpul di daerah panggul, punggung bawah, atau sekitar pinggang, yang berlangsung terus-menerus dan tidak membaik dengan istirahat biasa.

6. Keluhan berkemih atau buang air besar

Pada stadium lebih lanjut, tumor dapat menekan kandung kemih atau rektum sehingga muncul gejala seperti sering kencing, nyeri saat berkemih, sulit buang air besar, atau bahkan terdapat darah dalam urine maupun feses.

7. Pembengkakan tungkai dan keluhan sistemik

Bila kanker sudah menyebar ke kelenjar getah bening panggul atau menekan pembuluh darah, dapat timbul pembengkakan pada salah satu atau kedua tungkai, disertai rasa berat, mudah lelah, penurunan berat badan tanpa sebab jelas, dan penurunan nafsu makan.

8. Gejala lanjut lain yang mengindikasikan penyebaran

Pada stadium sangat lanjut, kanker dapat menyebabkan nyeri hebat, gangguan fungsi ginjal, sesak napas bila sudah menyebar ke paru, serta kondisi umum yang sangat menurun; keadaan ini memerlukan penanganan onkologi segera dan agresif.

Deteksi Dini Kanker Serviks

Tes HPV DNA untuk Deteksi Dini Kanker Serviks

Deteksi dini merupakan kunci utama dalam menurunkan angka kematian akibat kanker serviks. WHO merekomendasikan perempuan untuk menjalani skrining kanker serviks setiap 5-10 tahun mulai usia 30 tahun, atau setiap 3-5 tahun untuk perempuan dengan HIV mulai usia 25 tahun. 

Terdapat beberapa metode deteksi dini yang tersedia dengan tingkat akurasi berbeda.​

1. Tes HPV DNA

Tes HPV DNA merupakan metode skrining yang paling sensitif untuk mendeteksi infeksi HPV risiko tinggi yang dapat menyebabkan kanker serviks. Tes ini memeriksa DNA virus HPV dalam sel serviks dan memiliki sensitivitas hingga 97,5 persen untuk mendeteksi lesi prakanker tingkat tinggi (CIN grade 3 atau lebih). 

Kelebihan tes HPV DNA adalah kemampuannya mendeteksi infeksi sebelum perubahan sel terjadi, memberikan waktu lebih untuk intervensi dini. 

Kementerian Kesehatan Indonesia telah memasukkan tes HPV DNA dalam Rencana Aksi Nasional Eliminasi Kanker Serviks, dengan target perempuan usia 30-69 tahun menjalani skrining HPV DNA.​

2. Pap Smear

Pap Smear atau tes Papanicolaou mengambil sampel sel dari serviks untuk diperiksa di bawah mikroskop guna mendeteksi perubahan sel abnormal atau prakanker. 

Metode ini memiliki sensitivitas 84,2 persen dan direkomendasikan dilakukan setiap 2 tahun untuk perempun usia 21-29 tahun dan setiap 3 tahun untuk perempuan usia 30 tahun lebih. 

Pap smear sangat efektif dalam mendeteksi sel abnormal sebelum berkembang menjadi kanker.​

3. Tes IVA

Tes IVA (Inspeksi Visual Asetat) adalah metode skrining yang lebih sederhana dan terjangkau, cocok untuk fasilitas kesehatan dasar. 

Pemeriksaan dilakukan dengan mengoleskan asam asetat 3-5 persen pada serviks, di mana sel abnormal akan berubah warna menjadi putih. Meskipun memiliki sensitivitas lebih rendah (sekitar 74-88 persen).

4. Kolposkopi

Kolposkopi dilakukan sebagai pemeriksaan lanjutan jika hasil skrining menunjukkan kelainan. Prosedur ini menggunakan alat pembesar khusus untuk memeriksa serviks secara detail dan mengambil sampel jaringan jika ditemukan area mencurigakan.​

Pengobatan Kanker Serviks

Ilustrasi Pengobatan Kanker Serviks

Pilihan pengobatan kanker serviks bergantung pada stadium penyakit, kondisi kesehatan umum pasien, dan keinginan untuk mempertahankan kesuburan. Berikut beberapa pengobatan kanker serviks yang dapat Anda lakukan.

1. Pembedahan 

Pembedahan merupakan pilihan utama untuk kanker serviks stadium awal. Konisasi atau biopsi kerucut mengangkat jaringan berbentuk kerucut dari serviks dan dapat menjadi pengobatan definitif jika seluruh sel kanker terangkat. 

Histerektomi total mengangkat rahim dan serviks, sedangkan histerektomi radikal juga mengangkat jaringan di sekitar rahim, bagian atas vagina, dan kelenjar getah bening panggul. Untuk perempuan yang ingin mempertahankan kesuburan, trakhelektomi mengangkat serviks sambil mempertahankan rahim.​

2. Radioterapi

Radioterapi menggunakan sinar berenergi tinggi untuk membunuh sel kanker dan dapat diberikan secara eksternal atau internal (brakiterapi). Metode ini sering dikombinasikan dengan kemoterapi untuk meningkatkan efektivitas, terutama pada stadium lanjut.​

3. Kemoterapi 

Kemoterapi menggunakan obat-obatan untuk membunuh sel kanker di seluruh tubuh. Obat yang umum digunakan meliputi cisplatin, carboplatin, dan paclitaxel. Kemoterapi sering dikombinasikan dengan radioterapi (kemoradiasi) untuk kanker stadium II ke atas.​

4. Terapi

Terapi target seperti bevacizumab bekerja dengan menghambat pembentukan pembuluh darah yang menyuplai tumor. Imunoterapi seperti pembrolizumab membantu sistem kekebalan tubuh mengenali dan menyerang sel kanker. Kedua terapi ini digunakan untuk kanker stadium lanjut atau yang kambuh.​

Cara Mencegah Kanker Serviks

Kanker serviks termasuk jenis kanker yang sangat dapat dicegah melalui kombinasi vaksinasi HPV dan skrining rutin. 

WHO telah menetapkan strategi global eliminasi kanker serviks dengan target 90-70-90: 90 persen anak perempuan vaksinasi HPV sebelum usia 15 tahun, 70 persen perempuan usia 35 dan 45 tahun harus di skrining dengan tes performa tinggi, dan 90 persen perempuan dengan lesi prakanker mendapat tata laksana sesuai standar.​

1. Vaksinasi HPV 

Cegah Kanker Serviks Sejak Dini dengan Imunisasi HPV (Sumber: Youtube/Kementerian Kesehatan RI)

Vaksinasi HPV merupakan cara paling efektif untuk mencegah infeksi HPV penyebab kanker serviks. Vaksin terbukti dapat mencegah hingga 90 persen kasus kanker serviks. 

Penelitian menunjukkan anak perempuan yang divaksinasi sebelum usia 16 tahun memiliki risiko 80 persen lebih rendah untuk mengembangkan kanker serviks. Vaksinasi paling efektif jika diberikan sebelum paparan pertama terhadap HPV, idealnya pada anak usia 9-14 tahun dengan dua dosis.

Terdapat beberapa jenis vaksin HPV yang tersedia, termasuk Cervarix, Gardasil, dan Gardasil-9. Vaksin nonavalent (Gardasil-9) melindungi terhadap 9 tipe HPV risiko tinggi yang dapat menyebabkan kanker serviks. 

Di Indonesia, vaksinasi HPV telah menjadi bagian dari program imunisasi nasional untuk anak perempuan.​

2. Skrining Rutin Kanker Serviks

Skrining rutin tetap penting dilakukan meskipun sudah divaksinasi, karena vaksin tidak melindungi terhadap semua tipe HPV penyebab kanker. Perempuan usia 30-65 tahun disarankan menjalani pemeriksaan skrining secara berkala menggunakan metode IVA, Pap smear, atau tes HPV DNA.​

3. Modifikasi Gaya Hidup

Pencegahan kanker serviks bisa dengan memodifikasi gaya hidup. Berhenti merokok sangat penting karena merokok meningkatkan risiko persistensi infeksi HPV. 

4. Menggunakan Kondom saat Berhubungan Seks

Penggunaan kondom saat berhubungan seksual dapat mengurangi risiko penularan HPV meskipun tidak sepenuhnya mencegah. Membatasi jumlah pasangan seksual dan menjaga kebersihan area genital juga membantu menurunkan risiko infeksi.​

Kapan Perlu ke Dokter?

Seorang Pasien Berkonsultasi dengan Dokter tentang Kanker Serviks

Segera konsultasikan ke dokter jika Anda mengalami gejala-gejala yang mencurigakan, seperti perdarahan vagina di luar periode menstruasi, perdarahan setelah berhubungan seksual, keputihan abnormal yang berbau tidak sedap, atau nyeri panggul yang persisten.

Meskipun gejala-gejala tersebut dapat disebabkan oleh kondisi lain yang tidak berbahaya, pemeriksaan dini sangat penting untuk menyingkirkan kemungkinan kanker serviks.​

Perempuan yang belum pernah menjalani skrining atau tidak mengetahui kapan terakhir kali melakukan Pap smear atau tes HPV DNA sebaiknya segera menjadwalkan pemeriksaan. Deteksi dini memungkinkan penanganan lebih cepat dan meningkatkan peluang kesembuhan secara signifikan.​

Untuk pemeriksaan tes HPV DNA, pap smear, dan vaksinasi HPV, Anda dapat mengunjungi Tirta Medical Centre (TMC) yang merupakan klinik medical check up dengan laboratorium terpercaya dan terbaik di Indonesia. 

TMC menyediakan layanan lengkap untuk deteksi dini dan pencegahan kanker serviks dengan harga terjangkau. Bagi Anda yang memiliki keterbatasan waktu atau mobilitas, TMC juga menawarkan layanan Homecare TiCare yang memungkinkan pemeriksaan dilakukan di rumah atau kantor dengan kualitas pelayanan yang sama. 

Saat ini, klinik TMC telah hadir di lebih dari 30 lokasi cabang di seluruh Indonesia, memudahkan akses layanan kesehatan berkualitas bagi masyarakat.

Daftar harga layanan vaksin HPV, pemeriksaan Pap Smear, dan tes HPV DNA di Tirta Medical Centre:

LayananBiaya
Pemeriksaan Pap SmearRp139.000
Tes HPV DNARp1.065.000
Vaksin HPV (Cervarix 0.5 ml Pfs)Rp800.000
Vaksin HPV Kuadrivalen (Gardasil)Rp1.300.000
Vaksin HPV Nonavalent (Gardasil 9)Rp2.300.000
Vaksin HPV Nonavalent (Gardasil 9) 3 DosisRp6.800.000
Paket Vaksin HPV KuadrivalenRp3.900.000

Note: Harga dapat berubah sewaktu-waktu, Sahabat Tirta dapat menghubungi kami untuk update harga deteksi dini dan vaksinasi untuk kanker serviks atau reservasi promo TMC secara online di sini:

Dengan melakukan vaksinasi HPV dan tes HPV DNA secara rutin, Anda mengambil langkah proaktif dalam melindungi diri dari kanker serviks. Jangan tunggu hingga gejala muncul, lakukan pencegahan sejak dini untuk menjaga kesehatan reproduksi Anda.

Referensi:


Bagikan ke: