Herpes zoster, sering disebut cacar api atau shingles, adalah infeksi virus yang menyebabkan ruam kulit yang sangat nyeri dan dapat berlangsung lama.
Herpes zoster dapat menimbulkan rasa nyeri hebat, terutama pada kelompok usia lanjut, serta risiko komplikasi berupa neuralgia pasca‑herpetik yang nyerinya bisa bertahan bulan hingga bertahun‑tahun.
Oleh karena itu, pemahaman yang akurat mengenai gejala, penyebab, diagnosis, pengobatan, dan pencegahan sangat penting untuk mengurangi beban penyakit dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
Apa Itu Herpes Zoster (Cacar Api)?
Herpes zoster (cacar api) adalah penyakit neurokutaneus yang muncul ketika virus varicella zoster (VZV) yang sudah lama “tidur” di ganglion saraf sensoris kembali aktif akibat penurunan daya tahan tubuh.
Virus ini sama dengan virus penyebab cacar air, sehingga siapa pun yang pernah menderita cacar air atau vaksinasi cacar air berpotensi mengalami herpes zoster di masa depan.
Pada orang dewasa dan lansia, herpes zoster sering kali muncul sebagai ruam berbentuk garis pada salah satu sisi tubuh (misalnya dada, punggung, atau wajah), disertai nyeri yang menusuk, terbakar, atau seperti kesemutan.
Penyakit ini tidak menular menjadi “cacar api” pada orang lain, tetapi virusnya dapat menyebar kepada orang yang belum pernah terkena cacar air dan masih rentan, sehingga mereka berisiko mengalami cacar air primer.
Gejala Herpes Zoster (Cacar Api)
Gejala herpes zoster biasanya muncul secara bertahap, terutama pada satu sisi tubuh sepanjang distribusi suatu dermatom. Tahap awal seringkali berupa gejala prodromal (gejala pendahuluan) seperti:
- Malaise (lemas), sakit kepala, dan demam.
- Gejala lokal berupa rasa nyeri, kesemutan, gatal, atau sensasi terbakar pada area kulit yang beberapa hari kemudian akan muncul ruam.
Beberapa hari setelah gejala prodromal, muncul ruam berbentuk bintil berisi air (vesikel) yang berkelompok pada kulit merah dan edema, biasanya hanya di satu sisi tubuh. Ruam tersebut dapat terasa sangat nyeri, panas, dan kadang gatal.
Pada beberapa kasus, herpes zoster dapat mengenai mata (herpes zoster oftalmikus) atau telinga (herpes zoster otikus), sehingga perlu penanganan lebih spesifik untuk mencegah kebutaan atau gangguan pendengaran.
Penyebab Herpes Zoster (Cacar Api)
Herpes zoster disebabkan oleh reaktivasi virus varicella zoster (VZV) yang sebelumnya menetap di ganglion saraf setelah saat seseorang sembuh dari cacar air.
Setelah terinfeksi cacar air, virus tidak hilang, melainkan “bersembunyi” dalam bentuk laten di ganglion sensoris tulang belakang atau ganglion kranial.
Reaktivasi virus ini paling sering terjadi ketika sistem imun melemah, misalnya pada:
- Usia lanjut, terutama di atas 50 tahun.
- Kondisi imunokompromais seperti HIV, kanker, transplantasi organ, atau penggunaan obat imunosupresan.
- Stres berat, kelelahan, atau penyakit penyerta lain yang menurunkan daya tahan tubuh.
Reaktivasi virus menyebabkan peradangan pada saraf dan kulit, sehingga muncul nyeri dan ruam khas yang berbentuk garis di satu sisi tubuh.
Diagnosis Herpes Zoster
Diagnosis herpes zoster umumnya ditegakkan berdasarkan pemeriksaan fisik dan anamnesis klinis, karena pola ruam dan distribusi unilateral‑dermatomal sangat khas. Pada pasien dengan ruam yang jelas, pemeriksaan penunjang mungkin tidak selalu diperlukan.
Pada kasus yang tidak khas, dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan penunjang, seperti:
- Tes laboratorium (PCR Varicella Zooster) untuk mendeteksi keberadaan virus varicella zoster dari cairan vesikel.
- Pemeriksaan darah untuk menilai status imunitas, terutama pada pasien dengan kondisi imunokompromais.
Diagnosis dini sangat penting karena pemberian antiviral sebaiknya dimulai dalam 72 jam sejak munculnya ruam untuk mengurangi keparahan dan komplikasi penyakit.
Tempat Vaksin Herpes Zoster/Cacar Api Terbaik (Bisa Home Care)
Vaksinasi herpes zoster merupakan salah satu cara paling efektif untuk mencegah cacar api dan komplikasinya, terutama pada usia 50 tahun ke atas dan kelompok berisiko tinggi.
Vaksin Herpes Zoster (Shingrix), yang termasuk vaksin rekombinan, terbukti mengurangi risiko herpes zoster sampai lebih dari 90% pada populasi dewasa, serta menurunkan angka kejadian dan keparahan neuralgia pasca‑herpetik.
Di Indonesia, Klinik Tirta Medical Centre (TMC) menyediakan layanan vaksinasi herpes zoster dengan kualitas laboratorium terpercaya dan jaringan cabang yang luas.
Berikut informasi biaya vaksin herpes zoster (Shingrix) di Klinik Tirta Medical Centre:
- Harga Vaksin Herpes Zoster (Shingrix) 1 Dosis
- Harga
Rp2.749.000, Harga Promo: Rp2.600.000 per dosis.
- Harga
- Harga Promo Vaksin Herpes Zoster (Shingrix) 2 Dosis
- Harga
Rp5.398.000,Harga Promo: Rp5.100.000 untuk dua dosis.
- Harga
Note: Harga dapat berubah sewaktu-waktu, Sahabat Tirta dapat menghubungi kami untuk update harga vaksin cacar api (herpes zoster/shingrix) atau reservasi promo TMC secara online di sini:
Pemberian vaksin herpes zoster dapat dilakukan pada dewasa ≥50 tahun dan individu ≥18 tahun dengan kondisi imunokompromais atau risiko tinggi, setelah berkonsultasi dengan dokter.
Klinik TMC merupakan klinik medical check up yang telah memiliki laboratorium terakreditasi dan memiliki lebih dari 30 cabang di seluruh Indonesia, sehingga memudahkan pasien untuk menjalani vaksinasi dan pemeriksaan penunjang di satu tempat.
Selain itu, TMC menawarkan layanan Homecare TiCare yang memungkinkan Anda dan keluarga untuk melakukan vaksinasi herpes zoster di rumah atau kantor, tanpa harus mengantre dan mengurangi risiko paparan infeksi di fasilitas kesehatan.
Pengobatan Herpes Zoster
Meskipun tidak ada obat yang benar‑benar “menyembuhkan” virus herpes zoster, pengobatan dapat mempercepat proses penyembuhan, mengurangi rasa nyeri, dan mencegah komplikasi. Prinsip terapi herpes zoster sebagian besar adalah:
1. Antivirus
- Obat antiviral seperti acyclovir, valacyclovir, atau famciclovir dianjurkan segera setelah ruam muncul, idealnya dalam 72 jam pertama.
- Terapi antiviral dapat mempercepat pengeringan lesi dan mengurangi durasi nyeri akut.
2. Obat pereda nyeri dan antinyeri neuropatik
- Obat non‑opioid seperti parasetamol atau NSAID dapat digunakan untuk mengurangi nyeri ringan hingga sedang.
- Pada nyeri berat, dokter dapat meresepkan obat antinyeri saraf seperti gabapentin atau pregabalin, serta terkadang obat opioid dalam jangka pendek.
3. Perawatan kulit dan simptomatik
- Kompres dingin dan losion kalamin dapat membantu mengurangi rasa gatal dan nyeri.
- Menjaga area ruam tetap bersih dan kering, mengenakan pakaian longgar, serta menghindari penggarukan dapat mencegah infeksi sekunder.
Terapi yang dimulai lebih awal, dukungan terapi simptomatik yang baik, serta penanganan faktor risiko (misalnya pengelolaan kondisi imunokompromais) akan menentukan penyembuhan klinis pasien herpes zoster.
Komplikasi Herpes Zoster
Walaupun sebagian besar kasus herpes zoster dapat sembuh tanpa komplikasi berat, beberapa pasien, terutama lansia dan imunokompromais, berisiko mengalami komplikasi yang signifikan. Komplikasi yang paling sering dijumpai antara lain:
1. Neuralgia pasca‑herpetik (postherpetic neuralgia/PHN)
- Nyeri kronis yang dapat berlangsung berbulan‑bulan hingga bertahun‑tahun pada tempat bekas ruam herpes setelah ruam sembuh.
- PHN terjadi karena kerusakan saraf yang dipicu infeksi VZV dan dapat sangat mengganggu tidur, aktivitas harian, dan kualitas hidup.
2. Komplikasi pada mata (ophthalmik) dan telinga (otologik)
- Herpes zoster yang mengenai saraf fasialis atau saraf kranial dapat menyebabkan herpes zoster oftalmikus (gangguan mata) atau herpes zoster otikus dengan sindrom Ramsay Hunt (gangguan telinga dan wajah).
- Komplikasi ini dapat mengakibatkan gangguan penglihatan serius atau kehilangan penglihatan, gangguan pendengaran, hingga kelumpuhan wajah jika tidak ditangani cepat.
3. Infeksi sekunder dan komplikasi sistemik
- Lesi kulit herpes zoster dapat mengalami superinfeksi bakteri jika tidak dirawat dengan baik.
- Pada pasien imunokompromais, infeksi dapat menyebar secara sistemik dan menyebabkan komplikasi berat seperti encefalitis atau gangguan organ lain.
Pengenalan dini gejala dan penanganan yang tepat merupakan kunci untuk mencegah komplikasi berat tersebut.
Pencegahan Herpes Zoster
Upaya pencegahan herpes zoster dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan utama:
1. Vaksinasi herpes zoster
- Vaksin Shingrix sangat direkomendasikan untuk dewasa ≥50 tahun dan orang dewasa ≥18 tahun dengan risiko tinggi, termasuk pasien imunokompromais.
- Vaksin tersebut efektif mencegah infeksi herpes zoster dan mengurangi risiko serta keparahan komplikasi, terutama neuralgia pasca‑herpetik.
2. Pengelolaan penyakit penyerta
- Pengendalian penyakit kronis seperti diabetes dan penyakit onkologi, serta penggunaan obat imunosupresif yang tepat, dapat menurunkan risiko reaktivasi VZV.
Pencegahan yang optimal tidak hanya mengurangi risiko cacar api, tetapi juga meringankan beban pelayanan kesehatan terkait komplikasi herpes zoster.
Referensi:
- https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/shingles/symptoms-causes/syc-20353054
- https://www.cdc.gov/shingles/about/index.html
- https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/11036-shingles
- https://medlineplus.gov/shingles.html
- https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/shingles-(herpes-zoster)
- https://upk.kemkes.go.id/new/mengenal-herpes-zoster
- https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/2406/cacar-air-gejala-pencegahan-dan-pengobatan
- https://journalofmedula.com/index.php/medula/article/view/330

