Bagikan ke:

Gangguan pencernaan merupakan masalah kesehatan yang sangat umum dialami oleh jutaan orang di seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Sistem pencernaan yang tidak berfungsi optimal dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan menurunkan kualitas hidup secara signifikan.

Ketahui pembahasan tentang jenis-jenis gangguan pencernaan yang paling umum, penyebab terjadinya, serta cara mengatasinya.​

Jenis Gangguan Pencernaan yang Umum

Berikut adalah 13 jenis gangguan pencernaan yang perlu Sahabat Tirta ketahui:

1. GERD (Gastroesophageal Reflux Disease)

GERD adalah kondisi ketika asam lambung naik ke kerongkongan akibat melemahnya katup antara lambung dan kerongkongan (lower esophageal sphincter), menyebabkan sensasi terbakar dan ketidaknyamanan. Gejala ini sering kali disertai dengan regurgitasi asam, kesulitan menelan, dan terkadang batuk kronis.

Penanganan yang tepat sangat penting untuk mengurangi gejala dan mencegah komplikasi lebih lanjut. Jika tidak ditangani, GERD dapat menyebabkan peradangan esofagus, striktur, hingga Barrett’s esophagus yang meningkatkan risiko kanker esofagus.

2. Diare

Diare merupakan peningkatan frekuensi buang air besar lebih dari 3 kali sehari dengan konsistensi feses yang lebih cair. Kondisi ini dapat disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri, intoleransi makanan, atau efek samping obat-obatan.​

3. Sembelit atau Konstipasi

Sembelit adalah perubahan frekuensi buang air besar menjadi jarang dengan feses yang keras dan sulit dikeluarkan. Sembelit sering terjadi akibat kurangnya asupan serat, dehidrasi, dan kurangnya aktivitas fisik.​

4. IBS (Irritable Bowel Syndrome)

IBS adalah gangguan fungsional usus besar yang menyerang sekitar 10-25% dari populasi global. Kondisi ini ditandai dengan kontraksi otot usus yang abnormal, menyebabkan diare atau sembelit yang bergantian, kram perut, dan perut kembung.​ IBS tidak menyebabkan kerusakan struktur usus dan tidak meningkatkan risiko kanker, namun dapat memengaruhi kualitas hidup.

5. Wasir (Hemorrhoid

Wasir adalah pembengkakan pembuluh darah vena di sekitar anus atau rektum. Penyakit ini dapat menyebabkan gejala seperti rasa sakit, gatal, dan perdarahan saat buang air besar. 

Meskipun biasanya tidak berbahaya, wasir dapat mengganggu kenyamanan dan kualitas hidup penderitanya.

6. Tukak Lambung (Peptic Ulcer)

Tukak lambung adalah luka terbuka pada dinding lambung atau usus 12 jari. Infeksi bakteri Helicobacter pylori dan penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid jangka panjang merupakan penyebab utama.​

7. Gastritis 

Gastritis adalah peradangan pada lapisan mukosa lambung yang dapat menyebabkan nyeri epigastrik, mual, dan hilang nafsu makan. Kondisi ini dapat disebabkan oleh infeksi, penggunaan obat, atau faktor stres.​

8. Penyakit Celiac

Penyakit celiac adalah penyakit autoimun yang dipicu oleh konsumsi gluten, protein yang ditemukan dalam gandum dan biji-bijian sejenis. Ketika penderita mengkonsumsi gluten, sistem imun menyerang lapisan usus halus, menyebabkan diare, kembung, dan penurunan berat badan.​ Terapi utama adalah diet bebas gluten seumur hidup.

9. Crohn’s Disease

Crohn’s Disease adalah penyakit radang usus kronis yang dapat memengaruhi seluruh saluran pencernaan. Penyakit ini menyebabkan diare kronis, nyeri perut parah, penurunan berat badan, dan malnutrisi.​

10. Ulcerative Colitis

Ulcerative colitis adalah penyakit radang usus yang khusus menyerang usus besar dan rektum. Gejala utama meliputi diare berdarah, nyeri perut, dan penurunan berat badan yang tidak direncanakan.​

11. Divertikulitis

Divertikulitis terjadi ketika kantung kecil yang berkembang di dinding usus (divertikel) mengalami peradangan atau infeksi. Kondisi ini menyebabkan nyeri perut yang tajam, demam, dan perubahan pola buang air besar.​

12. Intoleransi Laktosa

Intoleransi laktosa adalah ketidakmampuan tubuh untuk mencerna dan menyerap laktosa, gula alami dalam susu dan produk olahannya. Kondisi ini disebabkan oleh defisiensi enzim laktase dan menyebabkan kembung, diare, dan kram perut setelah mengkonsumsi produk dairy.

13. Kanker Gastrointestinal

Kanker gastrointestinal mencakup berbagai jenis kanker yang menyerang organ-organ dalam saluran pencernaan, termasuk lambung, usus halus, usus besar, dan pankreas. Faktor risiko meliputi riwayat keluarga, pola hidup, infeksi H. pylori, dan usia.​

PENCERNAAN SEHAT DENGAN CARA SEDERHANA (Sumber: Youtube/Saddam Ismail)

Penyebab Gangguan Sistem Pencernaan

Penyebab gangguan pencernaan sangat beragam dan seringkali saling berkaitan satu sama lain. Memahami faktor-faktor pemicu adalah langkah pertama dalam mencegah dan mengatasi berbagai gangguan pencernaan.

1. Pola Makan Tidak Sehat

Pola makan tidak sehat merupakan salah satu penyebab gangguan pencernaan di Indonesia. Konsumsi makanan tinggi lemak, gula, dan rendah serat dapat memperlambat proses pencernaan dan mengganggu keseimbangan bakteri usus. 

2. Stres dan Kecemasan

Stres dan kecemasan memiliki dampak signifikan pada kesehatan pencernaan. Stres dapat memengaruhi fungsi saluran pencernaan dan menyebabkan gangguan seperti maag, sembelit, atau diare. Penelitian menunjukkan bahwa individu dengan tingkat stres tinggi lebih rentan mengalami gejala IBS dan gangguan pencernaan fungsional lainnya.​

Kurangnya aktivitas fisik yang mengganggu pergerakan normal makanan dalam saluran pencernaan. Olahraga yang teratur dapat meningkatkan sirkulasi darah, mempercepat pergerakan usus, dan mengurangi risiko sembelit serta gangguan pencernaan lainnya.​

3. Dehidrasi

Dehidrasi dapat menyebabkan feses menjadi lebih keras dan sulit dikeluarkan. Ketika tubuh kekurangan cairan, usus besar akan menyerap lebih banyak air dari feses, membuatnya menjadi kering dan padat. 

Cukupnya asupan cairan membantu menjaga konsistensi feses yang normal dan mendukung pergerakan usus yang sehat.

4. Infeksi Bakteri dan Virus 

Infeksi bakteri dan virus seperti Salmonella, E. coli, dan rotavirus dapat menyebabkan gastroenteritis akut dengan gejala diare, muntah, dan nyeri perut. Infeksi H. pylori khususnya dapat menyebabkan tukak lambung jika tidak ditangani dengan baik.​

5. Penggunaan Obat Jangka Panjang

Penggunaan obat jangka panjang, terutama obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) seperti ibuprofen dan aspirin, dapat merusak lapisan lambung dan menyebabkan tukak lambung serta gastritis.​

6. Dysbiosis atau Ketidakseimbangan Bakteri Usus 

Dysbiosis usus merujuk pada perubahan komposisi mikrobiota usus yang tidak seimbang, seperti penurunan keragaman bakteri, hilangnya spesies bermanfaat, atau dominasi mikroorganisme berpotensi patogen.

Kondisi ini sering dikaitkan dengan gangguan pencernaan seperti diare, kembung, nyeri perut, serta dapat mengganggu penyerapan nutrisi dan memicu peradangan kronis.

7. Polusi Makanan dan Air

Polusi makanan dan air melalui kontaminasi bakteri dan parasit dapat menyebabkan infeksi saluran pencernaan yang serius.​

8. Faktor Genetik dan Keturunan

Faktor genetik berperan signifikan dalam penyakit celiac, Crohn’s disease, dan ulcerative colitis, di mana individu dengan riwayat keluarga memiliki risiko lebih tinggi. Pada IBS, pengaruh genetik lebih lemah dan sering berinteraksi dengan faktor lingkungan serta psikologis.

Cara Mengatasi Gangguan Pencernaan

Seorang Pra Mengalami Gangguan Pencernaan

Penanganan gangguan pencernaan harus disesuaikan dengan jenis dan penyebab spesifik dari setiap kondisi. Pendekatan holistik yang menggabungkan perubahan gaya hidup, modifikasi diet, dan intervensi medis terbukti paling efektif.​

1. Perubahan Gaya Hidup

Makan makanan kaya serat dari buah, sayuran, dan biji-bijian membantu mencegah sembelit dan berbagai gangguan pencernaan lainnya. Minum air putih minimal 8 gelas setiap hari sangat penting untuk melancarkan proses pencernaan.

Olahraga rutin seperti jalan cepat atau senam aerobik meningkatkan pergerakan usus dan mengurangi stres. Manajemen stres melalui meditasi dan yoga terbukti mengurangi gejala IBS dan gangguan pencernaan fungsional lainnya.​

2. Modifikasi Pola Makan

Mengkonsumsi makanan yang mengandung probiotik seperti yogurt, kefir, kimchi, dan tempe membantu menjaga keseimbangan bakteri baik dalam saluran pencernaan. Penderita celiac disease harus menjalani diet bebas gluten seumur hidup untuk memungkinkan usus halus menyembuh.​

3. Pengobatan Medis

Antasida dan inhibitor pompa proton dapat memberikan relief dari gejala GERD dan tukak lambung. Untuk infeksi H. pylori, kombinasi antibiotik selama 10-14 hari dapat mengeradikasi bakteri. Probiotik suplemen membantu mengembalikan keseimbangan bakteri usus dan mengurangi gejala IBS.​

4. Pemeriksaan Rutin

Kolonoskopi untuk screening kanker kolorektal direkomendasikan untuk orang berusia 45 tahun ke atas. Breath test dapat mendiagnosis SIBO, sementara tes darah dapat mengidentifikasi celiac disease dan defisiensi nutrisi.​

Klinik Tirta Medical Centre (TMC) menyediakan layanan Medical Check Up yang komprehensif dengan laboratorium terpercaya dan terbaik di Indonesia untuk membantu Anda mendeteksi berbagai gangguan pencernaan secara dini. 

Dengan menggunakan teknologi diagnostik terkini dan laboratorium berstandar internasional, kami dapat mengidentifikasi gangguan pencernaan dengan akurasi tinggi sebelum menjadi masalah yang lebih serius.

Layanan Medical Check Up di TMC kini juga tersedia melalui TiCare Homecare, yang memungkinkan Anda menjalani pemeriksaan kesehatan di rumah atau kantor tanpa harus datang ke klinik. 

Layanan homecare ini sangat cocok bagi mereka yang memiliki jadwal padat atau kesulitan mobilitas, namun tetap dapat memperoleh pelayanan kesehatan berkualitas tinggi. 

Dengan jaringan 30+ cabang yang tersebar di seluruh Indonesia, TMC berkomitmen untuk membawa layanan kesehatan premium dan terjangkau ke masyarakat Indonesia di berbagai kota dan daerah.

Referensi:


Bagikan ke: