Bagikan ke:

Tuberkulosis (TBC) merupakan salah satu penyakit infeksi paling mematikan di dunia, disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menyerang terutama paru-paru, namun juga dapat menjalar ke organ lain seperti ginjal, tulang belakang, dan otak. 

Memahami mekanisme penularan TBC secara tepat merupakan langkah pertama dalam upaya pencegahan yang efektif.

Cara Penularan TBC

TBC menular melalui udara (airborne), bukan melalui kontak fisik langsung. Ketika seseorang dengan TBC aktif di paru-paru atau tenggorokan batuk, bersin, berbicara, tertawa, atau bernyanyi, mereka melepaskan droplet nuklei kecil yang mengandung bakteri M. tuberculosis ke udara. Orang di sekitarnya yang menghirup partikel udara tersebut berisiko terinfeksi.

Bakteri TBC dapat bertahan hidup di udara selama beberapa jam, terutama di ruangan tertutup dengan sirkulasi udara yang buruk seperti kendaraan umum, penjara, atau tempat tinggal yang padat. 

Penularan lebih mudah terjadi pada orang yang menghabiskan waktu lama bersama penderita TBC aktif, seperti anggota keluarga, rekan kerja, atau teman satu sekolah.

TBC tidak menular melalui:

  • Berjabat tangan dengan penderita TBC
  • Berbagi makanan atau minuman
  • Menyentuh linen atau dudukan toilet
  • Berbagi sikat gigi

Risiko seseorang terpapar TBC meningkat apabila ia tinggal atau sering bepergian ke negara-negara dengan angka TBC tinggi (seperti beberapa negara di Asia, Afrika, dan Amerika Latin), bekerja di fasilitas kesehatan, atau tinggal di lingkungan padat seperti panti sosial atau lembaga pemasyarakatan.

Penanganan TBC Yang Tepat Dan Cepat Berdasarkan Saran Dokter (Sumber: Youtube/Kata Dokter)

Beberapa Fase Infeksi TBC

Setelah bakteri M. tuberculosis terhirup dan masuk ke paru-paru, tubuh akan merespons melalui serangkaian fase infeksi yang berbeda-beda. Terdapat tiga tahapan infeksi TBC, yaitu infeksi primer, TBC laten, dan TBC aktif.

– Infeksi Primer & TBC Laten

Pada fase infeksi primer, sel-sel sistem imun akan menangkap dan mengurung bakteri. Jika sistem imun berhasil mengendalikannya, kondisi ini berkembang menjadi TBC laten (latent TB infection). 

Pada stadium ini, bakteri tetap hidup di dalam tubuh dalam kondisi “tidur” (dormant), namun penderita tidak menunjukkan gejala apapun dan tidak dapat menularkan bakteri ke orang lain.

Di Amerika Serikat saja, diperkirakan 13 juta orang hidup dengan TBC laten. Kondisi ini dapat bertahan seumur hidup tanpa berkembang, namun dapat sewaktu-waktu aktif kembali jika sistem imun melemah akibat penyakit tertentu seperti HIV/AIDS, diabetes, atau penggunaan obat imunosupresan.

– TBC Aktif

TBC aktif (active TB disease) terjadi ketika sistem imun tidak mampu lagi mengontrol pertumbuhan bakteri, sehingga bakteri berkembang biak dan menyebabkan kerusakan jaringan. 

Pada fase ini, penderita akan mengalami gejala yang nyata dan berpotensi menularkan penyakit ke orang lain.

Gejala TBC aktif meliputi:

  • Batuk menetap (>2 minggu), termasuk batuk berdarah atau berdahak
  • Nyeri dada saat bernapas atau batu
  • Demam dan menggigil
  • Keringat malam
  • Penurunan berat badan tanpa sebab jelas
  • Rasa lemas dan tidak nafsu makan

Berdasarkan kajian ilmiah dalam Journal of Infectious Diseases (NIH/PMC), seseorang dengan TBC paru yang positif pada pemeriksaan dahak (smear-positive) memiliki tingkat penularan yang lebih tinggi dibandingkan yang negatif, dengan batuk sebagai mekanisme paling efisien dalam menghasilkan aerosol infeksius.

TBC aktif di luar paru-paru (TBC ekstrapulmoner), seperti di ginjal atau tulang, umumnya tidak bersifat menular.

Cara Mencegah TBC

Vaksinasi BCG untuk Mencegah TBC

Pencegahan TBC mencakup upaya individu maupun komunitas. Langkah-langkah berikut terbukti secara medis efektif:

1. Vaksinasi BCG (Bacillus Calmette-Guerin)

Diberikan pada bayi dan anak-anak di negara dengan beban TBC tinggi, termasuk Indonesia, untuk mencegah bentuk TBC berat seperti meningitis TB.

2. Pengobatan TBC laten

Penderita TBC laten, terutama yang memiliki faktor risiko tinggi, dianjurkan menjalani terapi pencegahan dengan antibiotik agar tidak berkembang menjadi TBC aktif.

3. Ventilasi ruangan yang baik

Bakteri TBC lebih mudah menyebar di ruang tertutup dan berventilasi buruk; membuka jendela atau menggunakan kipas angin membantu mengurangi risiko.

4. Penggunaan masker

Penderita TBC aktif wajib menggunakan masker saat berada di dekat orang lain, terutama selama 2–3 minggu pertama pengobatan.

5. Isolasi mandiri

Selama fase menular, penderita sebaiknya beristirahat di rumah, menghindari keramaian, dan tidur di kamar terpisah.

6. Etika batuk

Tutup mulut dengan tisu saat batuk atau bersin, lalu buang tisu ke tempat sampah tertutup.

7. Penyelesaian pengobatan penuh

TBC aktif harus diobati minimal 6–9 bulan dengan kombinasi antibiotik secara disiplin untuk mencegah resistensi obat (drug-resistant TB).

Tempat Tes TBC Terbaik

Ilustrasi Tempat Tes TBC Terbaik

Deteksi dini TBC sangat penting, baik bagi yang memiliki gejala maupun yang memiliki faktor risiko tinggi. Pemeriksaan TBC umumnya mencakup foto Rontgen dada dan tes darah (Interferon-Gamma Release Assay/IGRA).

Salah satu pilihan terbaik untuk melakukan tes TBC di Indonesia adalah Klinik Tirta Medical Centre (TMC). TMC merupakan klinik medical check up dengan laboratorium terpercaya dan berstandar tinggi yang telah hadir di 30+ lokasi cabang di seluruh Indonesia, sehingga mudah dijangkau oleh masyarakat di berbagai kota.

Keunggulan layanan Klinik TMC meliputi:

  • Pemeriksaan TBC yang akurat dengan tenaga medis profesional dan peralatan laboratorium berstandar tinggi
  • Layanan Homecare TiCare, pemeriksaan kesehatan yang dapat dilakukan langsung di rumah atau kantor Anda, tanpa perlu datang ke klinik, sehingga lebih praktis dan efisien
  • Tersedia di lebih dari 30 lokasi cabang se-Indonesia untuk kemudahan akses masyarakat luas

Jika Anda mengalami gejala seperti batuk lebih dari dua minggu, berkeringat di malam hari, atau penurunan berat badan yang tidak jelas penyebabnya, segera lakukan pemeriksaan TBC di klinik terdekat atau manfaatkan layanan homecare TMC untuk diagnosis yang cepat dan tepat.

Referensi:


Bagikan ke: