Bagikan ke:

Demam tipes  merupakan salah satu penyakit infeksi yang paling sering terjadi di masyarakat Indonesia, terutama pada anak-anak, remaja, maupun orang dewasa yang mengonsumsi makanan atau minuman dari sumber yang tidak terjamin kebersihannya.

Mengenali tanda-tanda awal tipes dan mengetahui cara penanganannya yang tepat dapat membantu mencegah terjadinya komplikasi serius serta mempercepat proses penyembuhan.

Apa itu Tipes?

Tipes atau demam tifoid adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Bakteri ini masuk ke tubuh melalui konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi oleh feses penderita. 

Penyakit tipes termasuk masalah kesehatan umum di Indonesia, terutama di daerah dengan sanitasi yang kurang baik.​

Penularan tipes terjadi secara fecal-oral, artinya melalui makanan dan minuman yang tidak higienis.

Masa inkubasi penyakit ini berkisar 7-14 hari setelah paparan bakteri, tapi dapat berkisar 3 hari – 2 bulan. Jika tidak ditangani dengan tepat, tipes dapat berkembang menjadi penyakit serius yang mengancam nyawa.​

Gejala Tipes

Gejala demam tifoid muncul secara bertahap dan progresif. Berikut 7 gejala utama yang perlu dikenali:

1. Demam Tinggi Bertahap

Demam merupakan gejala pertama dan utama, mulai perlahan meningkat hingga mencapai 39-40°C dalam beberapa hari pertama. Demam dapat berlangsung 2-3 minggu tanpa pengobatan antibiotik. Pola demam bersifat naik turun, terutama di sore atau malam hari.​

2. Sakit Kepala

Sakit kepala berat merupakan gejala umum yang menyertai demam, terutama di bagian dahi. Intensitasnya dapat berkisar dari ringan hingga berat dan semakin memburuk saat suhu tubuh meningkat.​

3. Nyeri Otot

Pasien mengalami myalgia (nyeri otot) yang menyebar di seluruh tubuh, terutama di punggung. Gejala ini muncul bersamaan dengan peningkatan demam.​

4. Kelelahan dan Kelemahan

Kelemahan fisik yang ekstrem membuat pasien merasa lemas dan sulit melakukan aktivitas ringan sekalipun. Hal ini disebabkan respons imun tubuh terhadap infeksi dan peningkatan metabolisme akibat demam tinggi.​

5. Gangguan Saluran Pencernaan

Pasien dapat mengalami mual, muntah, diare ringan hingga sedang, sembelit, atau sakit perut. Gangguan pencernaan terjadi karena bakteri langsung menyerang mukosa usus halus.​

6. Ruam Kulit Kemerahan

Ruam khas yang disebut “rose spots” (bintik-bintik merah muda) biasanya muncul pada minggu kedua. Ruam berukuran kecil (2-4 mm), tidak gatal, dan hilang saat ditekan tetapi timbul kembali.​

7. Kehilangan Nafsu Makan

Hilangnya nafsu makan (anoreksia) hampir selalu dialami penderita tipes, terutama fase awal. Akibatnya adalah penurunan berat badan yang cepat, menandakan beratnya infeksi.​

Cara Mengatasi Tipes (Demam Tifoid)

Penanganan demam tifoid harus dilakukan di bawah pengawasan tenaga medis. Terapi utama adalah antibiotik yang tepat, disertai perawatan suportif untuk membantu tubuh pulih dan mencegah komplikasi.

– Terapi Antibiotik

Demam tifoid disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella Typhi, sehingga antibiotik merupakan pengobatan utama. Jenis antibiotik yang digunakan ditentukan oleh dokter berdasarkan tingkat keparahan penyakit, kondisi pasien, serta pola resistensi bakteri di wilayah setempat.

Beberapa kelompok antibiotik yang umum digunakan dalam penanganan tifoid meliputi:

  • Sefalosporin generasi ketiga (misalnya ceftriaxone), yang sering diberikan melalui suntikan pada kasus sedang hingga berat.
  • Makrolida (seperti azitromisin), yang dapat digunakan sebagai alternatif, terutama di daerah dengan tingkat resistensi terhadap antibiotik golongan fluoroquinolone yang tinggi.
  • Fluoroquinolone (misalnya ciprofloxacin) masih digunakan di beberapa kondisi tertentu, tetapi penggunaannya semakin dibatasi karena meningkatnya resistensi bakteri di banyak negara.

Lama pengobatan bervariasi tergantung jenis antibiotik dan respons pasien, umumnya berlangsung sekitar 7–14 hari. Pada kasus berat atau bila terjadi komplikasi, terapi dapat berlangsung lebih lama sesuai evaluasi dokter.

Pasien wajib menghabiskan antibiotik sesuai resep, meskipun gejala sudah membaik, untuk mencegah kekambuhan dan resistensi antibiotik.

– Perawatan Suportif

Selain antibiotik, perawatan pendukung sangat penting untuk membantu proses penyembuhan dan mengurangi risiko komplikasi.

1. Istirahat cukup

Pasien dianjurkan mengurangi aktivitas dan memperbanyak istirahat agar tubuh dapat fokus melawan infeksi.

2. Pemenuhan cairan

Demam dan gangguan pencernaan dapat menyebabkan kehilangan cairan. Oleh karena itu, pasien perlu minum air yang cukup. Pada kondisi tertentu, minuman dengan elektrolit atau cairan rehidrasi oral dapat membantu mencegah dehidrasi, terutama bila disertai diare atau muntah.

3. Pola makan

Makanan sebaiknya mudah dicerna dan tidak mengiritasi saluran cerna. Hindari sementara makanan yang terlalu pedas, berminyak, atau sulit dicerna bila memperburuk keluhan perut.

4. Penanganan demam

Demam dapat dikontrol dengan obat penurun panas seperti paracetamol sesuai anjuran tenaga kesehatan. Selain itu, mengenakan pakaian yang ringan dan menjaga kenyamanan suhu tubuh dapat membantu pasien merasa lebih baik. Penggunaan obat lain harus dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter.

Pemeriksaan Laboratorium untuk Tipes

Diagnosis demam tifoid yang tepat sangat penting untuk menentukan terapi antibiotik yang sesuai dan mencegah komplikasi. 

Penegakan diagnosis tifoid tidak hanya bergantung pada gejala klinis, tetapi juga didukung oleh pemeriksaan laboratorium. Beberapa jenis tes masih digunakan dalam praktik klinis, meskipun masing-masing memiliki keterbatasan.

1. Tes Widal

Tes Widal merupakan pemeriksaan serologi yang mendeteksi antibodi terhadap antigen O (somatik) dan H (flagelar) dari bakteri Salmonella Typhi. Pemeriksaan ini telah lama digunakan karena prosedurnya relatif sederhana, biaya lebih terjangkau, dan hasil dapat diperoleh dengan cepat.

Namun, tes Widal memiliki keterbatasan penting. Akurasinya dapat dipengaruhi oleh paparan infeksi sebelumnya, kondisi endemik setempat, maupun riwayat vaksinasi, sehingga hasil positif tidak selalu menandakan infeksi aktif. 

Oleh karena itu, tes Widal tidak dianjurkan sebagai satu-satunya dasar diagnosis, dan interpretasinya harus mempertimbangkan kondisi klinis pasien serta pemeriksaan penunjang lain.

Dalam praktik, pemeriksaan antibodi berpasangan (dua kali pemeriksaan dengan jarak waktu tertentu) dapat membantu meningkatkan nilai interpretasi, meskipun metode ini tetap memiliki keterbatasan.

2. Tes Tubex TF

Tes Tubex TF adalah pemeriksaan serologi yang dirancang untuk mendeteksi antibodi terhadap antigen Salmonella Typhi yang lebih terkait dengan fase awal infeksi.

Dibandingkan tes Widal, metode ini dinilai memiliki performa yang lebih konsisten pada beberapa studi, terutama dalam membedakan infeksi yang sedang berlangsung.

Meski demikian, seperti pemeriksaan serologi lainnya, hasil Tes Tubex tetap tidak sepenuhnya bebas dari kemungkinan hasil positif palsu dan sebaiknya tidak digunakan sebagai satu-satunya alat penentu diagnosis. 

Pemeriksaan ini lebih tepat digunakan sebagai alat bantu, terutama bila dikombinasikan dengan evaluasi klinis dan pemeriksaan lain yang direkomendasikan dokter.

Tempat Tes Widal dan Tes Tubex TF untuk Pemeriksaan Tipes (Bisa Homecare)

Tirta Medical Centre (TMC) merupakan jaringan klinik kesehatan yang menyediakan layanan pemeriksaan medis dan laboratorium di berbagai kota di Indonesia. Berikut ini harga tes tipes di Klink Tirta Medical Centre:

  • Harga Tes Widal Slide: Rp145.000
  • Harga Tes IgM Anti Salmonella Typhi (Tubex TF): Rp433.000

Note: Harga dapat berubah sewaktu-waktu, Sahabat Tirta dapat menghubungi kami untuk update biaya tes tipes atau reservasi online di sini:

Selain layanan di klinik, TMC menyediakan layanan home care, yang memungkinkan pengambilan sampel pemeriksaan dilakukan di rumah atau kantor pasien. 

Layanan ini ditujukan untuk membantu pasien yang sedang tidak fit, memiliki keterbatasan mobilitas, atau memerlukan kenyamanan pemeriksaan tanpa harus datang langsung ke fasilitas kesehatan. 

Proses pengambilan sampel dilakukan oleh tenaga kesehatan dengan prosedur standar dan peralatan medis yang sesuai.

Referensi:


Bagikan ke: