Bagikan ke:

Vaksin polio merupakan salah satu pencapaian luar biasa dalam sejarah kesehatan masyarakat modern.

Penyakit polio telah membunuh dan melumpuhkan jutaan anak di seluruh dunia selama berabad-abad. Namun, berkat pengembangan vaksin yang efektif dan program imunisasi global yang terkoordinasi, penyakit ini hampir sepenuhnya telah dieradikasi.

Ketahui tujuh fakta penting tentang vaksin polio, mulai dari sejarahnya, jenis-jenisnya, efektivitas, hingga manfaat kesehatan yang ditawarkannya.

Fakta-fakta Vaksin Polio

Vaksin Polio

Ada beberapa fakta tentang vaksin polio yang perlu Sahabat Tirta ketahui. Berikut adalah fakta-fakta vaksin polio:

1. Vaksin Polio Telah Mengubah Sejarah Kesehatan Masyarakat

Sebelum vaksin polio dikembangkan, penyakit ini merupakan penyakit ditakuti di dunia pada abad ke-20. Wabah besar terjadi di New York City pada tahun 1916 yang menyebabkan 27.000 kasus dan menewaskan 6.000 orang di Amerika Serikat.

Dr. Jonas Salk mengembangkan vaksin polio yang pertama kali disetujui pada 12 April 1955. Salk membagikan formulasi vaksinnya tanpa mengambil keuntungan. 

Ketika ditanya siapa pemilik paten vaksin polio, Salk menjawab: “There is no patent. Could you patent the sun?” atau “Tidak ada paten. Bisakah Anda mempatenkan matahari?” Dedikasi Salk terhadap kesetaraan akses telah menginspirasi program imunisasi global.

Hasilnya luar biasa: kasus polio tahunan turun dari 58.000 pada tahun 1955 menjadi hanya 5.600 pada tahun 1957, dan hanya 161 kasus pada tahun 1961. 

Enam tahun setelah peluncuran IPV (Inactivated Poliovirus Vaccine), Dr. Albert Sabin mengembangkan vaksin polio oral (OPV) yang menggunakan virus polio yang dilemahkan secara hidup dan mulai digunakan secara komersial pada tahun 1961. 

Kesuksesan kedua vaksin ini mendorong WHO dan Rotary International untuk meluncurkan Global Polio Eradication Initiative (GPEI) pada tahun 1988.

2. Ada Dua Jenis Vaksin Polio dengan Mekanisme Berbeda

Berikut adalah dua jenis vaksin polio yang perlu Sahabat Tirta ketahui:

1. IPV (Inactivated Poliovirus Vaccine)

IPV adalah vaksin yang dibuat dengan membunuh virus polio. Virus yang mati tidak dapat berkembang biak, sehingga benar-benar aman tanpa risiko menyebabkan polio. IPV diberikan sebagai suntikan intramuskular dan menghasilkan antibodi dalam aliran darah yang melindungi dari kelumpuhan.

IPV paling baik melindungi dari kelumpuhan, tetapi kurang efektif dalam mencegah penularan dibanding OPV.

2. OPV (Oral Polio Vaccine)

OPV menggunakan virus polio yang dilemahkan secara hidup. OPV diberikan sebagai tetes di mulut dan merangsang pembentukan antibodi di usus (imunitas mukosa). 

Keunggulan OPV adalah kemampuannya untuk menghentikan penularan virus dari orang ke orang melalui imunitas kontak. 

Dalam situasi yang sangat jarang terjadi (sekitar 1 dari 2,9 juta dosis), virus OPV yang dilemahkan dapat bermutasi kembali menjadi bentuk wildtype, menyebabkan Vaccine Associated Paralytic Polio (VAPP). 

3. Vaksin Polio Memiliki Tingkat Efektivitas Tertinggi

Efektivitas vaksin polio adalah salah satu yang tertinggi di antara semua vaksin yang tersedia. Dua dosis IPV memberikan perlindungan minimal 90% terhadap ketiga tipe virus polio, sementara tiga dosis memberikan efektivitas setidaknya 99%. 

Untuk OPV sebelum diganti dengan IPV, penelitian menunjukkan tingkat perlindungan yang serupa dengan IPV. Kemampuan vaksin polio untuk menciptakan respons imun yang kuat dan berkelanjutan membuat penyakit ini menjadi target utama program eradikasi global.

4. Vaksin Polio Mencegah Kelumpuhan Permanen dan Komplikasi Serius

Polio dapat menyebabkan kelumpuhan seumur hidup yang menghancurkan. Virus polio pertama-tama bereplikasi di usus, kemudian menyebar melalui aliran darah di mana ia dapat menginfeksi otak dan sumsum tulang belakang.

Kelumpuhan dari polio sering bersifat permanen, memerlukan alat bantu seperti kursi roda atau paru-paru besi (iron lung) untuk bertahan hidup. Kelumpuhan dapat terjadi dalam beberapa jam setelah terjadi infeksi.

Dari penderita yang mengalami lumpuh, 5-10% meninggal dunia saat otot pernapasan tidak dapat bergerak. Vaksin polio, dengan mencegah infeksi polio, secara efektif menghilangkan risiko terjadinya kelumpuhan ini.

Komplikasi jangka panjang juga perlu dipertimbangkan. Para penyintas polio masa kanak-kanak dapat mengembangkan sindrom pasca-polio 15 hingga 40 tahun setelah pemulihan awal mereka. 

Kondisi ini ditandai dengan kelemahan otot progresif, kelelahan, dan rasa sakit. Diperkirakan bahwa 25-40% dari penyintas polio mengalami sindrom pasca-polio.

5. Program Eradikasi Global Mengurangi Kasus Lebih dari 99%

Sejak peluncuran GPEI pada tahun 1988, kemajuan luar biasa telah dicapai. Kasus polio telah menurun lebih dari 99%. 

Pada tahun 1994, Amerika Latin disertifikasi bebas polio. Tahun 2000, Wilayah Pasifik Barat WHO juga disertifikasi bebas polio. Tahun 2014, kawasan Asia Tenggara WHO dinyatakan bebas polio. Tahun 2020, kawasan Afrika—yang pernah menjadi pusat endemisitas polio—juga disertifikasi bebas polio.

Indonesia telah menjadi bagian penting dari kesuksesan dalam mencegah polio dengan vaksin polio.

Jika dalam komunitas belum mendapat vaksin dalam jumlah cukup banyak, virus polio bisa kembali muncul. Makanya imunisasi rutin tetap penting walaupun negara sudah dinyatakan bebas polio.

6. Efek Samping Vaksin Polio Sangat Ringan dan Jarang

IPV memiliki profil keamanan yang sangat baik. Efek samping dari IPV sebagian besar bersifat ringan dan bersifat sementara, termasuk nyeri, kemerahan, atau bengkak di tempat suntikan. Gejala-gejala ini biasanya hilang dalam beberapa hari tanpa perawatan khusus.

Beberapa penerima vaksin dapat mengalami demam ringan setelah vaksinasi. Reaksi alergi dari vaksinasi rutin sangat jarang, terjadi pada sekitar 1 dari 1 juta pemberian dosis. Jika reaksi ini terjadi, biasanya muncul dalam 15-30 menit pertama setelah vaksinasi dan dapat ditangani secara medis dengan sempurna.

“Vaksin polio telah digunakan oleh sekitar 235 juta orang di 35 negara, dan di Indonesia hampir 50 juta dosis telah diberikan. Berdasarkan laporan yang diterima dan telah dianalisis oleh Komnas KIPI, setiap ada kasus KIPI serius langsung dikaji bersama oleh Komnas KIPI. Hingga saat ini, tidak ditemukan hubungan yang dapat membuktikan bahwa kelumpuhan yang terjadi disebabkan oleh vaksin Polio. Sampai sekarang, belum ada bukti keterkaitan tersebut,” jelas Ketua Komnas KIPI Prof. Hinky Hindra.

7. Jadwal Vaksinasi Dipersonalisasi Sesuai Usia

Menurut jadwal imunisasi yang ditetapkan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), pemberian vaksin polio dilakukan saat anak berusia 2, 3, 4 bulan. Untuk perlindungan tambahan, anak juga dapat menerima satu dosis vaksin polio booster ketika mencapai usia 5 tahun.

Di Indonesia, kombinasi imunisasi yang direkomendasikan sesuai dengan rekomendasi WHO dan ITAGI (Indonesia Technical Advisory Group of Immunization).

Orang dewasa yang memiliki risiko tinggi tertular polio disarankan menerima 1 hingga 3 dosis vaksin IPV, tergantung pada riwayat vaksinasi sebelumnya.

Bagi individu yang belum pernah memperoleh vaksin polio, memiliki riwayat vaksinasi yang tidak lengkap, atau tidak mengetahui status vaksinasinya, dua dosis pertama diberikan dengan interval 4–8 minggu, sedangkan dosis ketiga diberikan enam bulan setelah dosis kedua.

Sementara itu, orang dewasa yang telah mendapat vaksinasi polio lengkap saat masa kanak-kanak dan berencana bepergian ke wilayah endemis polio atau negara yang mewajibkan vaksin tersebut, dianjurkan untuk mendapatkan satu dosis vaksin IPV tambahan (booster) paling lambat empat minggu sebelum keberangkatan.”

Vaksin polio jenis titisan atau suntikan? Gabungan kedua-duanya adalah lebih baik (Sumber: WHO/Youtube)

Tempat Vaksin Polio Terbaik di Tirta Medical Centre (Bisa Home Care)

Tirta Medical Centre (TMC) adalah fasilitas medical check up terkemuka di Indonesia dengan laboratorium terpercaya dan terbaik. TMC menawarkan program vaksinasi polio yang komprehensif dengan standar keamanan tertinggi.

Layanan TiCare adalah program home care yang memungkinkan pasien menerima vaksinasi polio di rumah atau kantor. Petugas medis profesional TMC akan datang langsung ke lokasi Anda dengan semua peralatan dan vaksin yang diperlukan.

Dengan lebih dari 30 lokasi di seluruh Indonesia, TMC telah membuat layanan vaksinasi polio berkualitas tinggi tersedia untuk komunitas yang lebih luas. Kehadiran yang tersebar memastikan Anda dapat mengakses layanan vaksinasi polio profesional dari TMC di berbagai kota besar di Indonesia.

Harga Vaksin Polio di TMC

  • Biaya Vaksin Polio IPV (Imovax): Rp250.000
  • Biaya Vaksin Polio IPV (Biofarma): Rp375.000

Note: Harga dapat berubah sewaktu-waktu, Sahabat Tirta dapat menghubungi kami untuk update harga vaksin polio atau reservasi promo TMC secara online di sini:

Imovax adalah vaksin polio inaktif berkualitas tinggi yang diproduksi oleh Sanofi Pasteur. Biofarma adalah produk vaksin polio inaktif dari PT Bio Farma yang digunakan dalam program vaksinasi nasional Indonesia. Kedua vaksin telah terbukti aman dan efektif dalam mencegah polio.

Vaksinasi polio adalah pencapaian luar biasa yang telah menyelamatkan jutaan nyawa. Dengan lebih dari 99% penurunan kasus sejak GPEI diluncurkan, dunia semakin dekat dengan eradikasi lengkap penyakit ini. 

Untuk mempertahankan pencapaian ini dan melindungi generasi mendatang, vaksinasi polio harus terus menjadi prioritas. Vaksin ini merupakan vaksin untuk umrah dan haji yang sudah diwajibkan pemerintah Arab Saudi kepada seluruh jamaah.

Tirta Medical Centre, dengan komitmennya terhadap keunggulan medis, layanan home care TiCare yang mudah diakses, dan jaringan 30+ cabang di seluruh Indonesia, adalah pilihan tepat untuk memastikan Anda dan keluarga terlindungi dari polio. 

Investasi dalam vaksinasi adalah investasi dalam kesehatan jangka panjang dan masa depan yang lebih cerah.

Referensi:


Bagikan ke: